Saat Sirkus Lupa Pentas

Lupa pentas? yap, artinya lupa mengupdate.

Memang, tiada yang lebih hina dari punya blog tapi ngga pernah nulis. haha!

Belakangan saya lebih senang menikmati permainan, liukan kata-kata telah menjadi wahana liar di sosial media. Ada blogsite yang telah juara karena kenyinyirannya adapula portal yang senang memprovokasi emosi ketimbang kesadaran.

Bising? iya.

Sekarang pilihannya mau ikut-ikutan membuat kebisingan atau menikmati kebisingan? that’s all about choice. Selama ngga ngusik kita mah asik..hehe

Mari kita produktif, bekerja-bekerja bernas sesekali butuh tepuk tangan namun jangan kebanyakan.

Tabik

 

 

Advertisements

Waiting

“Time is very slow for those who wait
Very fast for those who are scared
very long for those who lament
Very short for those who celebrate
But for those who love time is eternal”
— William Shakespeare

Menunggu adalah kata kerja. Karena ada usaha dan kesabaran ekstra keras untuk melakukan pekerjaan itu.

Terdapat hubungan erat antara menunggu dengan waktu, keduanya saling melengkapi. Mereka bagai dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, barangkali karena kata kerja sesekali butuh keterangan.

Di keseharian kita, ada rasa yang tidak terjabarkan dalam setiap titik usaha yang meluluhkan waktu hanya demi menunggu. Mudahnya, apa yang membuat seorang ibu rela menunggu selama beberapa jam, menghabiskan seperempat harinya di sebuah ruang tunggu sekolah hanya untuk melihat anaknya pulang dengan hati gembira. Jawabannya adalah Cinta.

Cinta memunculkan harapan dalam melihat kebaikan pada setiap menunggu. Semua terasa begitu bernas, tidak lagi sumir.

Sampai kapan menunggu akan menyelesaikan tugasnya? jawabannya tidak pernah diketahui. Karena menunggu sesungguhnya tidak pernah menyelesaikan tugasnya, sesungguhnya dia ada di setiap manusia yang memiliki cinta dan harapan.

Musuh besar menunggu adalah ketidaksabaran dan kecemasan. Keduanya juga musuh dari cinta dan harapan. Sampai di sini mau kah kita menunggu?

Bingung!

“Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian (eagle flies alone).” ― Soekarno, Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial.

Baiklah, menulis lagi. Saya tidak tahu apakah tulisan ini ringan dan akan renyah. Anggap saja ini sebuah racauan tentang kebosanan, apatisme hingga ketidakpedulian tentang situasi yang saban hari dipertontonkan di sekitaran.

Sewaktu kecil, rasanya membedakan antara penjahat dan jagoan terasa mudah, simpel dan begitu jelas. Saat khusyu di depan tv tabung kita langsung mahfum bahwa Rita Repulsa adalah musuh Power Rangers. Begitu pun dengan Gorgom yang ingin menjadi Raja Abad selalu mengerahkan monster jahatnya vis a vis dengan Ksatria Baja Hitam.  Semua penjahat adalah musuh kebaikan, dan akhirnya kebaikan selalu menang. Semua begitu liniear.

Begitu dewasa, saat syaraf-syaraf di otak semakin kompleks, kesadaraan yang dibentuk lingkungan semakin kuat, seharusnya manusia menjadi semakin peka. Tapi entah kenapa, cara saya membedakan antara jagoan dan penjahat di negeri yang saya tinggali kok rasanya sulit sekali. Semua terasa absurd, sumir dan bias.

Kadang saya juga sulit membedakan apa saya penjahat atau jagoan. Begitu pula halnya saat memahami apakah kedewasaan justru membuat cara membedakan antara penjahat dan jagoan menjadi samar. Atau format kesadaran kita begitu kompleks melihat itu semua, haah ribet. Sepertinya lebih baik menjadi anak kecil.

Saya bingung kenapa orang yang melakukan tindakan asusila tetap juga masih diidolakan, kadang ada orang baik malah dianggap aneh karena dianggap terlalu ‘mustahil’ untuk dilakukan zaman ini. Aneh? ya itulah adanya.

Pada akhirnya saya cuma ingin bersikap, yang dalam istilah temen saya setia itu pada nilai bukan pada manusia. Jadi patokannya tetap, tidak dinamis. Itulah yang disebut prinsip. Mau banyak atau sedikit, jika melanggar nilai, itulah yang kita pilah. So, pekerjaan rumahnya adalah menemukan nilai-nilai itu. titik.

#mungkininipart1 #semacamide

10 Must Have Songs in (my) Playlist

Avant Propos,

Mmm.. cukup lama keliatannya ngga nulis di sirkuskata ini. Terkadang, memulai -lagi-sesuatu yang baik itu ternyata sulit. Butuh ide, usaha dan support. And i think, i’ve got it all. now, yeay! Thank you.
Okelah, baiknya saya mulai dengan hal-hal ringan saja. Tentang hari-hari saya diisi apa. Musik. Yaps, itulah salah satu teman sehari-hari saya. Musik adalah kawan setia menghadapi garis mati (baca: deadline) di samping sms/telepon dari asred dan redaktur. Hoho.

Musik juga irama, rutinitas dan ritme berpikir, seperti kata Einsten, If I were not a physicist, I would probably be a musician. I often think in music. I live my daydreams in music. I see my life in terms of music.

Ini baru awal, semoga bisa konsisten, that’s all.

#10Songs

“Tidak ada ideologi dalam bermusik!” – Saya.

Semua yang ringan dan catchy di telinga adalah syarat. Saya tidak membenci hardcore karena saya suka punk, saya tidak benci dangdut karena saya suka rock!. Bagi saya yang patut dicaci yaitu musik dengan yang memainkan lirik banal, eksploitasi hasrat untuk kepentingan pasar sehingga membuat selera penikmatnya terdegradasi.

Saya lebih suka melihat lirik ketimbang siapa pemain musiknya -meskipun tidak selalu begitu-. Bagi saya mendengarkan 10 lagu ini adalah cara saya menghidupi suasana, mengenai harapan, hidup, kematian dan cinta. Ruang di mana setiap manusia selalu bergelut di dalamnya.
Yak, berikut adalah suasana keseharian saya.

keterangan: #1-#10 disusun secara acak, bukan ranking. Karena menyusun prioritas pada suatu selera adalah kesukaran yang nyata.  #penting

#1 – Jhon Lenon – Imagine

Siapa yang gapernah denger lagu ini? You must! *tereak*. Lagu yang  liriknya dianggap Jhon Lenon  sebagai bentuk praksis dari Manifesto Communist-nya Karl Marx. Lagu yang mengeliminasi semua narasi besar dunia, tapi pesannya sederhana “Perdamaian”.

Buat saya, lagu ini paling cocok diputer pas pikiran lagi kusut nulis berita tentang aksi korporasi bertingkat sebuah emiten. Apalagi perusahaan pengusaha roti (baca: catchy Bakrie), ahaha. Kadang mikir, kenapa hidup perusahaan lu ga dibikin gampang dan tidak perlu seribet itu! (banyak leverage sih *ngikik*). Saya suka bagian lirik yang ini.

“Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people sharing all the world”

#2 – Temper Trap – Sweet Dispotition

Ini lagu saya denger sebelum tahu kalau lagu ini merupakan soundtrack filmnya si manis Zooey Deschanel  (500 Days of Summer) *uhuk*. Lagu dengan komposisi lirik dan aransemen yang unik dan catchy ini langsung bikin saya jatuh cinta. Satu lagi, yang bikin bangga karena band asal Australia ini vokalisnya kan si Dougie Mandagi yang putra asli Manado. Ini lagu enak di denger pas lagi naik motor atau di bis/kereta/pesawat pas mau travelling.

Paling enak bagian reffnya, jelas dan tegas:

“A moment, a love
A dream aloud
A kiss, a cry
Our rights, our wrongs”

#3 – Radiohead – Idioteque

Nah, kalau ini lagu kalau pas pengen, bakal saya diputer lebih dari 3 kali. Kata temen saya, lagu ini paling enak didengerin saat giting (baca: mabok). But no for me, lagu ini -sekali lagi- cocok pas materi berita ribetnya ampun-ampunan. Haha. Kalau ditanya soal bagaimana Radiohead, saya angkat tangan dah. They are living legend!.

Lagu ini udah langsung bikin ‘high’ dari intro, apalagi didengerin out of loud! So nice laah (bukan sosis -red). Kalo kata si Thom Yorke (vokalis) lagu ini dianggap sebagai “the happiest song we’ve ever written.”

“Who’s in bunker, who’s in bunker
I’ve seen too much
I haven’t seen enough
You haven’t seen enough
I’ll laugh until my head comes off”

#4 – The S.I.G.I.T.  – Only Love Can Break Your Heart

Aslinya ini lagunya si om Neil Young, salah satu dari gitaris terbaik di Dunia, versi Rolling Stones yang baru diliris awal tahun ini. Liriknya sederhana dan ngena bener. Tapi saya lebih seneng pas Rekti (vokalis The SIGIT yang kepanjangan dari The Super Insurgent Group of Intemperance Talent *ngos-ngosan ngejanya*) nyanyiin lagu ini. Kocokan gitar yang kasar dan suara cempreng bikin suasana lagu mellow tapi ngga terkesan cengeng ini makin terasa kian maknyuss!.

“When you were young and on your own
How did it feel to be alone?
I was always thinking of games that I was playing
Trying to make the best of my time”

#5 – Coldplay – Fix You

“When you try your best, but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse
When the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you”

Rentetan bait di atas sudah dapat mengambarkan bagaimana jeniusnya band ini. Liriknya kuat dan ngena.  Apalagi buat mereka yang butuh bangkit dari keterpurukan. Lagu ini bakal pas banget!. Buat mereka yang percaya selalu ada jalan keluar dan cahaya untuk kembali menjadi ‘sesuatu’. (*bukan Syahrini loh ya!).

Kalau di USA Today, si Chris Martin (vokalis) bilang ini lagu ditujukan untuk istrinya , Gwyneth Paltrow, saat menghadapai kematian sang ayah.

“My father-in-law Bruce Paltrow bought this big keyboard just before he died. No one had ever plugged it in. I plugged it in, and there was this incredible sound I’d never heard before. All these songs poured out from this one sound. Something has to inspire you, and something else takes over. It’s very cloudy.”

Tapi lagu ini akhirnya disempurnain oleh semua awak coldplay.

#6 – Frau – Mesin Penenun Hujan

Frau nama aslinya Leilani Hermiasih, anak sastra UGM. Anaknya katanya biasa saja. Ga keliatan mencolok di tengah keramaian *eh. Tapi, saat Frau bertemu Piano, saat itulah poros dunia berubah. Simak aja lagu ‘Mesin Penenun Hujan’ , lagunya kayak orang hatinya ke iris-iris abis itu ditaburi garam, dalem bet dah!. Saya dengerin lagu ini karena komposisi liriknya yang unik dan permainan pianonya yang kedengeran complicated tapi terasa easy listening. Saya suka lirik yang bagian ini!

“Keputusan yang tak terputuskan
Ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan
Kebalikan di antara kita”

#7  – Efek Rumah Kaca – Debu-debu Berterbangan

Gada lagi yang bisa didebatin dalam lirik di lagu ini. That’s so obvious! Lagu yang paling enak didenger sendiri saat di atas gunung, tepi pantai maupun di kamar dalam kondisi kontemplasi. Lagu ini terinspirasi dari Surat Al-Ashr (103) yang menggambarkan soal bagaimana manusia harus memanfaatkan waktu yang dimilikinya untuk hal-hal bermanfaat, jika tidak, konsekuensinya jelas. Metafora yang dihadirkan dalam lagu ini cukup kuat.

“Pada saatnya nanti
Tak bisa bersembunyi
Kitapun menyesali, kita merugi
Pada siapa mohon perlindungan”

Untuk ERK, banyak orang bilang band ini adalah jelmaan Radiohead di Indonesia, meskipun Cholil (vokalis) bakal bilang itu overrated. Tapi minimal, buat saya ERK adalah heterodoxa (wacana tandingan, meminjam istilah Pierre Bourdieu) dari band-band mainstream yang menjamur di Indonesia saat ini. Oia, selain lagu ini, saya suka Ballerina!.

#8 – Peter Cetera  – Glory of Love

Ini lagu ‘Syupeeer Sekali’ *gaya om Mario*. Lagu ini bakal sering dinyanyiin ke soulmate saya suatu saat nanti #eaaa. Lagu soundtrack dari Karate Kid II ini adalah eksposisi yang sempurna akan komitmen cinta seorang laki-laki kepada pasangannya. Agak gombal, mungkin, tapi saya yakin pencapaian cinta seseorang bisa sebegitu dalamnya. Lagu ini pas dinyanyiin dan didengerin pada saat yang pas dan tepat!

“I am a man who will fight for your honor
I’ll be the hero that you’re dreaming of
Gonna live forever, knowing together
That we did it all for the glory of love

You keep me standing tall
You help me through it all
I’m always strong when you’re beside me
I have always needed you
I could never make it alone”

#9 – Kla Project – Yogyakarta

Lagu monumental dari Kla ini adalah kuliminasi dari kerinduan akan Jogja. Kota ini adalah rumah kedua untuk saya. Kota yang mengajarkan apa saja soal kehidupan. Jogja bukan hanya sebuah luasan geografis, tapi Jogja bagi saya adalah Sikap. Untuk terus mencari ilmu, berfokus pada tujuan, namun tetap membumi. Bagi setiap anak manusia yang pernah di Jogja, lagu ini adalah obat yang tepat untuk mengkompensasi jauhnya jarak dirinya dengan sang Kota.

Lagu ini bisa disandingkankan dengan ‘Homesick’-nya Kings Of Convenience

“Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja”

#10 – Dream Theater  – Spirit Carries On

Lagu ini baru dilirils setelah 14 tahun band progressif rock ini berdiri. Terlambat? Tidak. Ini adalah titik tolak pencapaian Dream Theater dalam perjalanan karirnya. Lagu ini menginspirasi banyak orang, karena liriknya yang kuat dalam relasi transandental. Lagu ini betutur tentang siapa manusia itu dan bagaimana akhirnya kelak. *nyes banget pokokna!*

Sehari, lebih dari 3 kali saya denger lagu ini. Meskipun yang nyanyiin ga seiman, tapi liriknya yang universal membuat tafsiran atas teksnya tetap terasa netral.  CMIIW.

Lirik awalnya katanya terinspirasi dari karya pelukis post-impressionist asal Perancis tahun 1897 Paul Gauguin.

Tapi saya paling suka bagian Nicholas:

“Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say ” Life is too short”
“The here and the now”
And ” You`re only given one shot”
But could there be more
Have I lived before
Or could tis be all that we`ve got?

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I`m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I`d be alright
Because I believe
That after we`re gone
The spirit carries on”

un monokrom

menyesapi malam dan siang dengan warna yang sama, hanya besar dan kecilnya sinar sang surya saja yang membuat semuanya terasa beda. secara prinsip monokrom mengaburkan persepsi kita dalam keragaman warna. beruntung rasanya masih ada manusia yang melihat dunia dengan rasa yang berbeda.menyesapi malam dan siang dengan warna yang sama, hanya besar dan kecilnya sinar sang surya saja yang membuat semuanya terasa beda. secara prinsip monokrom mengaburkan persepsi kita dalam keragaman warna. beruntung rasanya masih ada manusia yang melihat dunia dengan rasa yang berbeda.

Suprapti dan Hak Angket

“mas tadi bicara hak angket ya? angket opo, hehe? century opo pajak?.”

kok ibu tau?

“orang bodoh dicecokin politik terus ya lama-lama ngerti mas. hehe.”

suprapti begitu namanya kalau saya tidak salah ingat. dia bukanlah sosok penting di DPR, tapi kehadirannya sangat bermanfaat bagi kebanyakan jurnalis di sana, karena profesinya sebagai penjaja makanan di ruang wartawan. Setidaknya, menurut saya suprapti lebih ditunggu dibandingkan anggota dpr. karena bagi kami makan siang itu dibeli bukan -selalu- disediakan. satu lagi, profesi suprapti setidaknya lebih independen dari kami para jurnalis yang terkadang diatur oleh pemilik.

suprapti mengaku usianya 54 tahun, hanya lulus sd, sehari-hari dia berjualan di ruang belakang press room dpr. omsetnya pun bisa jadi tidak lebih dari 300 ribu perhari, tapi itu semua tidak menghalangi dia untuk tampak bahagia. dia punya cara marketing yang unik, yaitu memanggil semua jurnalis dengan panggilan ‘sayang’. #adem

suprapti mungkin telah berbulan-bulan bahkan tahunan menjejakkan kakinya di salah satu episentrum kekuasaan itu. tidak heran, suprapti mengerti sedikit-sedikit istilah politik. tengok saja, pertanyaan yang dia ajukan, sama sekali jauh dari kesan orang yang tidak up to date.

dia tahu kesehariannya berhadapan dengan tuan dan nyonya pengambil kebijakan terpenting di negaranya membuatnya sedikit demi sedikit belajar. namun, saya yakin suprapti ingin menjaga kesadarannya, karena dia yakin kedekatannya dengan kekuasaan tidak akan mengubah nasibnya tanpa adanya usaha, yakni tetap berjualan.

suprapti tampak paham sekali, kenapa hanya gara-gara beberapa orang ribut soal pansus hak angket mengakibat para jurnalis jadi kalang kabut dan masyarakat pun ribut. suprapti keliatannya pun tahu, hak angket itu senjata politik yang ampuh untuk menangkis lawan politik.ya, suprapti adalah contoh masyarakat ‘pinggiran’ yang mengerti politik karena terpaksa.

sekali lagi, dia pun mengerti, pemerintah terancam dengan adanya hak angket itu. namun, bagi suprapti yang penting adalah bagaimana dia tetap bisa berjualan lalu menggendong cucu setelah sampai rumah dan menyediakan secangkir teh untuk sang suami.

pengalaman saya hampir dua bulan di senayan tampaknya sedikit membuka mata saya tentang apa itu manusia. seperti suprapti, sembari jualan dia mendengar politisi bicara, suprapti seorang desa yang mencari nafkah, tapi terkadang kita lupa, revolusi bisa saja terjadi dari orang seperti suprapti.