Suprapti dan Hak Angket

“mas tadi bicara hak angket ya? angket opo, hehe? century opo pajak?.”

kok ibu tau?

“orang bodoh dicecokin politik terus ya lama-lama ngerti mas. hehe.”

suprapti begitu namanya kalau saya tidak salah ingat. dia bukanlah sosok penting di DPR, tapi kehadirannya sangat bermanfaat bagi kebanyakan jurnalis di sana, karena profesinya sebagai penjaja makanan di ruang wartawan. Setidaknya, menurut saya suprapti lebih ditunggu dibandingkan anggota dpr. karena bagi kami makan siang itu dibeli bukan -selalu- disediakan. satu lagi, profesi suprapti setidaknya lebih independen dari kami para jurnalis yang terkadang diatur oleh pemilik.

suprapti mengaku usianya 54 tahun, hanya lulus sd, sehari-hari dia berjualan di ruang belakang press room dpr. omsetnya pun bisa jadi tidak lebih dari 300 ribu perhari, tapi itu semua tidak menghalangi dia untuk tampak bahagia. dia punya cara marketing yang unik, yaitu memanggil semua jurnalis dengan panggilan ‘sayang’. #adem

suprapti mungkin telah berbulan-bulan bahkan tahunan menjejakkan kakinya di salah satu episentrum kekuasaan itu. tidak heran, suprapti mengerti sedikit-sedikit istilah politik. tengok saja, pertanyaan yang dia ajukan, sama sekali jauh dari kesan orang yang tidak up to date.

dia tahu kesehariannya berhadapan dengan tuan dan nyonya pengambil kebijakan terpenting di negaranya membuatnya sedikit demi sedikit belajar. namun, saya yakin suprapti ingin menjaga kesadarannya, karena dia yakin kedekatannya dengan kekuasaan tidak akan mengubah nasibnya tanpa adanya usaha, yakni tetap berjualan.

suprapti tampak paham sekali, kenapa hanya gara-gara beberapa orang ribut soal pansus hak angket mengakibat para jurnalis jadi kalang kabut dan masyarakat pun ribut. suprapti keliatannya pun tahu, hak angket itu senjata politik yang ampuh untuk menangkis lawan politik.ya, suprapti adalah contoh masyarakat ‘pinggiran’ yang mengerti politik karena terpaksa.

sekali lagi, dia pun mengerti, pemerintah terancam dengan adanya hak angket itu. namun, bagi suprapti yang penting adalah bagaimana dia tetap bisa berjualan lalu menggendong cucu setelah sampai rumah dan menyediakan secangkir teh untuk sang suami.

pengalaman saya hampir dua bulan di senayan tampaknya sedikit membuka mata saya tentang apa itu manusia. seperti suprapti, sembari jualan dia mendengar politisi bicara, suprapti seorang desa yang mencari nafkah, tapi terkadang kita lupa, revolusi bisa saja terjadi dari orang seperti suprapti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s